 |
| |
| Thursday, February 08, 2007 |
| Dan Sempurnalah Hidupku… |
16 Oktober 2006, menjelang Subuh. Mata kami lekat memandangi test pack itu. Jantung ini rasanya berdebar lebih kencang. Perlahan nampaklah 2 garis merah muda dan itu artinya…Aku positif hamil!!! Sontak kami berpelukan sambil mengumandangkan tasbih dan takbir. Subhanalloh, antara percaya dan tak percaya. Sungguh sebuah karunia yang tak ternilai. Bayangkan, saya akan segera menjadi ibu! Dan itu berarti hidupku akan sempurna sebagai wanita. Allahuakbar! Rasanya begitu banyak hal yang harus saya syukuri dari sejak proses awal pernikahan sampai detik ini. Semua berjalan begitu mudah dan tentu saja indah. Dan kehamilanku ini melengkapi sudah semua bentuk kebahagiaan. Kami tak perlu menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk bisa mempunyai keturunan. Hanya berselang 5 minggu dari pernikahan kami! Subhanalloh…Orang bilang: ‘tokcer amat!”, hehe. Alhamdulillah semua berkah. Menjalani pernikahan sudah sedemikian “menakjubkan”, apalagi menjalani kehamilan. HAMIL. Sebuah kata yang selalu menghadirkan sensasi dan getaran tersendiri ketika mendengarnya. Amazing! Bayangkan saja, ada “calon manusia” di rahim kita. Sejak saat itu, beberapa perubahan mulai nampak. Mual-mual, pusing dan muntah hanyalah “sedikit” bumbu yang melengkapi manisnya kehamilan. Trimester pertama adalah masa-masa paling “menyiksa”. Rasanya tak ada semangat menjalani aktivitas, bawaannya ingin tidur dan yang pasti jadi tidak selera makan. Hidung mendadak jadi amat sensitive. Kalau sudah begitu, mual muntah deh. Subhanalloh… Satu hal yang juga membuatku bersyukur atas kehamilan ini adalah bahwa cinta suami yang semakin besar dari hari ke hari. Beruntung saya memiliki suami yang lembut, perhatian dan sangat mencintai saya. Ah, saya semakin mencintainya. Kini, tugas kami adalah menjaga amanah Alloh ini hingga terlahir ke dunia dengan selamat dan tentu saja menjadi anak yang saleh/salehah serta menjadi penerus risalah dakwah Rasulullah saw. Amiin. 19 Oktober 2006. 2.33 pm Buat Aa: “Thanks to make my life’s perfect! I Love u, honey… |
posted by banyu @ 7:51 PM  |
|
|
|
|
| Episode Curug Sidomba |
Angin sepoi-sepoi membelai pipi kami, sesejuk hati kami saat itu. Lelahnya perjalanan setelah melewati puluhan anak tangga tak lagi kami rasakan. Di sebuah dangau kami rehat menikmati bekal yang kami bawa. Hari itu genap sepekan pernikahan kami. Esok harinya kami merencanakan untuk pindah ke rumah kami yang baru di kota kelahiran suami. Dan hari itu adalah momen special just the two of us, yang memang belum sempat kami laksanakan. “Bulan madu” kami yang sangat sederhana, di Curug Sidomba, hanya 1 jam perjalanan dari rumah saya. Ada sebuah momen yang begitu menggetarkan. Waktu itu, saya menagih hafalan surah At-Tahrim beserta tafsirnya. Memang, jauh sebelum taaruf, saya berazzam meminta calon suami, siapa pun itu, menghafalkan surah tersebut untuk saya. Alhamdulillah calon suami menyanggupi. Mengapa surah itu? Saya merasa surah itu adalah “kunci” sekaligus penuntun kami menjalani rumah tangga kelak karena isinya sangat pas. Rencananya hafalan itu akan saya tagih pas malam pertama. Tapi rasanya kurang tepat. Dan saat itulah momen yang saya rasa sangat tepat dari segala sisi. Dan kami duduk berhadapan. Saya menyimak hafalan beserta tafsir dan asbabun nuzul-nya. Saya menatapnya lekat dan hati saya menjadi sangat hangat. Subhanallah…sosok di hadapan saya itu adalah suami saya, yang padanya saya percayakan hati dan masa depan saya. Yang di pundaknya ada amanah “Kuu anfusakum wa ahlikum naara…” Dan di pundak saya ada amanah untuk menjadi istri yang bisa menjaga kesucian seperti Maryam, tegar seperti Asiah dan tak menjadi pendurhaka seperti istri Nabi Nuh dan Luth. Kenangan indah telah terpatri. Dalam kesederhanaan tercipta kisah yang monumental. Menjelang petang kami pulang. Bergandengan tangan kami melewati puluhan anak tangga itu kembali seperti kami yang sedang “mendaki” ke puncak kehambaan yang tertinggi. Ya, kini saya tak berjalan sendirian untuk menuju Sang Maha Tinggi, tempat segalanya bermuara. Ada seseorang bersama saya, bersama hingga menatap wajahNya. Amiin… Mengenang 19 September 2006 |
posted by banyu @ 7:45 PM  |
|
|
|
| Friday, May 19, 2006 |
| Untuk Mujahidku |
Belumkah datang saatnya bagiku menetapi satu hati saja? Yang dengannya aku bisa merasakan kebahagiaan yang tenang. Yang dengannya aku bisa berbagi beban. Ah…dia masih ‘tersimpan’ di belahan bumi jihad yang lain. Entah dimana aku tak tahu. Yang pasti dia ada, menunggu waktu yang tepat untuk bersanding dan membawaku ke rumah cintanya. Mempercayakan rumah jiwanya hanya padaku saja.
Siapapun engkau, wahai mujahid, tetaplah berada di jalan cahaya yang dimana di jalan inilah kita akan dipertemukan. Bersatu mempersembahkan segala daya untuk tegaknya dien ini di rumah kita. Ya, peradaban itu akan kita mulai dari rumah kita. Kan kita semai bibit unggul yang kan menjelma ruh-ruh baru bagi umat ini. Juga menjadikan rumah kita adalah madrasah pertama dan utama sebelum sekolah mereka yang lain. Dari rumahlah mereka belajar tentang Tuhan dan segala penciptaannya. Dan aku, akulah yang akan menjadi garda terdepan dan ibu terbaik buat mereka. Dan engkau, engkaulah yang akan menjadi pemimpin dan panutan buat mereka. Ya, kita akan menjadi orang tua paling hebat. Setujukah mujahidku?
Doakan aku wahai mujahid. Agar aku senantiasa berada dalam kesucian yang hanya akan kupersembahkan padamu. Segala cinta dan pengabdianku, semampuku. Kelak jika aku telah menjadi permaisurimu, tarbiyahlah aku dengan ilmumu. Ingatkan segala kesalahanku. Aku pun takkan membiarkanmu dalam kelalaian. Ya, kita akan menjadi pasangan sempurna yang akan saling menyempurnakan. Bukan begitu mujahidku?
Ehm, rasanya aku tak sabar lagi menunggu hari terindah itu. Satu hari dimana tonggak suci kan terpancangkan dengan kuat, mitsaqon ghalidzo. Tak ada yang bisa memisahkan kita selain kematian, bukan? Bahkan kita berazzam untuk bersama hingga ke jannahNya. Duhai, itulah sebaik-baik tempat.
Saat ini, yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan berusaha. Agar kelak kita menyongsong pernikahan agung itu dengan “sempurna” hingga keberkahan menyelimuti rumah hati kita. Amiin.
(21 April 2006, diiringi “Adalah Engkau” by Seismic) |
posted by banyu @ 3:00 AM  |
|
|
|
|
| Tafakur Bening dalam Hening |
Ku menatap langit yang tenang Dan takkan menangisi malam Ku tetap berdiri ku melawan hari Ku akan berarti Ku tak kan mati… (Peterpan)
Apalah hidup jika hanya ditangisi? Bukankah hidup juga selalu menyisakan bingar yang menyenangkan? Kesendirian yang berpadu dengan kesedihan memang merupakan sesuatu yang pahit. Hingga tak terasa bulir air mata menjadi penghias malam-malam sepi nan mengigit. Tapi bukankah kesendirian juga menyisakan hikmah tersendiri? Inilah saat-saat dimana jiwa bisa merenung, menghitung ulang tabungan pahala atau torehan dosa, bercumbu dengan Sang Maha Kasih dan menumpahkan segala rahasia hati hanya padaNya tanpa khawatir rahasia kan terbongkar. Atau “kesendirian” juga bisa bermakna “kebebasan” dimana kita bisa dengan leluasa melakukan amal produktif dibandingkan jika kita telah membersamai seseorang. Meski tak pelak diri harus mengakui bahwa burung kan terbang jauh membumbung jika bersayap utuh. Namun, jika sayap kita belum lagi genap, yang perlu dilakukan hanyalah mencoba tetap mengepakkan sayap dan tetap terbang semampu yang bisa kita tempuh. Mencumbui kesendirian dengan air mata toh tidak akan mengubah apa-apa. Apalagi jika kita sadar bahwa hidup pada hakikatnya adalah pergiliran. Ada yang datang dan pergi seperti pagi yang merebut malam ataupun sebaliknya. Kelak, kan datang yang lainnya sebagai sebuah kepastian bahwa Alloh telah menetapkan seseorang untuk kita. Maka, sendiri tak harus berarti “mati” bukan? Sendiri bisa lebih berarti jika kita bisa memaknainya dari kaca mata yang berbeda. Bahwa selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Saat kesedihan itu menyergap, salah satu terapinya barangkali adalah menatap langit tanpa batas seraya tetap berharap dan bergantung kepada Pemilik langit dan bumi juga jiwa ini. (09 April 2006) |
posted by banyu @ 2:49 AM  |
|
|
|
| Saturday, April 01, 2006 |
| Aku Masih Di Sini |
(From Banjar With Luv)
Aku masih di sini. Di antara orang-orang yang menitipkan masa depannya pada kami. Ada janji dan tanggungjawab yang harus tertunaikan. Juga sebuah idealisme membangun peradaban yang harus diwujudkan. Rabbi, perkenankan kami…
Tak pernah terbersit sedikit pun kalau akhirnya aku harus berada di sini. Namun, aku menganggap ini sebagai sebuah skenario dari Yang Maha Penggenggam. Meski kuakui, keberadaanku di sini bukanlah salah satu mimpi dari sekian banyak mimpiku. Tapi toh itu tak menjadi sesuatu yang harus disesali. Aku yakin, ada banyak hal positif yang bisa aku ambil. Dan kini, aku mulai menuai berkah. Apalagi jika bukan anugerah terindah yakni berada dalam lingkaran hidayah. Ya, bagiku, senantiasa berada dalam lingkaran hidayah adalah berkah yang luar biasa. Membersamai orang-orang yang mewakafkan dirinya untuk dakwah, dipersaudarakan layaknya Muhajirin dan Anshar, mencurahkan segenap potensi diri untuk umat, dll adalah nikmat yang senantiasa harus disyukuri. Pun ketika akhirnya ikhtiarku untuk mengamalkan ilmu dari bangku kuliah harus kandas, aku harus tetap bersyukur dan berpikir positif. Ini qudratullah.
Maka, aku masih di sini. Di bumi jihad, Banjar.
Allahumma a’ina ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik. Allohumma inna nas’aluka huda, wal fafa, wattuqo, wal ghina. Amiin…
26 Maret 2006 sampai …………. (Memaknai kehadiranku disana...Seiring cinta yang kian berputik) |
posted by banyu @ 8:42 PM  |
|
|
|
|
| Sebuah Akhir |
Duka ini adalah duka yang tenang: Sepenuh kesungguhan, aku menutup sepenggal episode kebersamaan. Sepenuh kesadaran, aku bangun dari sebuah mimpi kehidupan. Sepenuh jiwa, aku menguburnya dalam kenangan masa silam. Sepenuh keyakinan, aku mengantarnya pergi dari jalan panjang hidupku ke depan.
Aku berduka, dengan duka yang tenang: Atas keyakinan, kehilangan ini adalah wajar adanya, Atas kepastian, proses hidup memang demikian jalannya. Atas kepercayaan, esok kan datang yang lainnya: Aku berduka dalam tenang
(by Azimah Rahayu, taken from "Catatan Wanita Lajang)
Note: Bahwa hidup harus terus berlanjut. Suatu saat pasti kan ku jelang :) |
posted by banyu @ 7:38 PM  |
|
|
|
|
| Cinta dan Kesucian |
“Mencintai adalah menabung kesucian.”
Indah sekali kata-kata itu. Terucap dari bibir seorang ibu yang puisinya senantiasa menggetarkan jiwa, Bunda Neno Warisman.
Cinta adalah fitrah. Dan fitrah adalah suci. Maka, cara mencintai adalah dengan menabung kesucian, agar ia tetap berada dalam koridor Alloh Azza Wajalla. Dan segala sesuatu yang senantiasa berada dalam koridorNya pastilah berbuah kebahagiaan. Kelak, jika cinta dibingkai dengan kesucian, kebahagiaan hidup berpasang-pasangan tak hanya menjadi syurga dunia namun juga menjadi syurga di akhirat.
Rabbi, semoga cinta yang kelak nanti ku bangun adalah hasil dari tabungan kesucianku. Sehingga bukan kebangkrutan yang kudapat melainkan kebahagiaan hakiki, di bumi dan akhirat nanti.
Untuk segala keborosan cinta yang kubingkai dengan nafsu, maafkan aku, Rabb… Rengkuh…rengkuhku dalam kesucian cintaMu.
***
Bertemu cinta teragung, dalam sujudku asyik menyanjung. Umpama pengembara di malam gulita, kandil cintaNya menerangi jiwa.
Sekian lama terbiar, dalam belantara hidup nan diam. Di bukit ku tersepit, di lembah terhina. Hidup yang perit mengajarku mencari cinta
Ku sangka teguh, ternyata masih rapuh. Ku sangka mudah namun amat payah. Ku sadar semua pasti ada akhirnya Smoga akhir berselimut cinta Cinta agungNya.
Sekian lama, diri terlerai kehidupan terabai. Kini kusadar, aku temui kedamaian abadi
(Mencari Cinta, Saujana)
26 March 2006 (Berkaca pada suatu masa. Terpatri janji untuk menyongsong hari itu dengan kesucian.) |
posted by banyu @ 7:32 PM  |
|
|
|
| Sunday, March 12, 2006 |
| Skripsi Oh Skripsi.... |
Sedih banget denger kabar dari temen di Purwokerto kalo beberapa temen aktivis dakwah masuk daftar panggil jurusan coz belum ngerjain skripsi padahal udah angkatan lama (99 n ’00). Hemm...harusnya itu ga perlu terjadi. Semoga saja ini ga jadi preseden buruk buat dakwah. Ups, ga bermaksud nyalahin mereka. Mmm, jadi pengen bernostalgia ke masa-masa kuliah dulu. Saya kadang malu sama adik-adik angkatan terutama yang jadi binaan di kampus coz saya ga lulus-lulus. Kelulusan saya emang tergolong “agak telat” walaupun kata orang masih dalam batas toleransi: 5 tahun! Padahal mereka menganggap saya kakak mereka yang ideal. Ihiks, jadi malu sendiri. Yang tambah bikin ga enak tuh kadang mereka suka bilang gini: “Teh Ina kan sibuk, ya? Aktivitasnya banyak. Jadi ga sempet ngerjain”. Oh NO…! Bukan, bukan itu alasannya. Sungguh bukan aktivitas dakwah yang membuat saya ga lulus-lulus. Masalahnya justru sangat personal n “menyedihkan”. MALAS! Yup, what else selain males. Yang saya tahu, teman-teman yang kena peringatan itu emang termasuk aktivis tulen alias banyak aktivitas. But, haruskah menyalahkan aktivitas? Jangan dong. Kasian, amanah jadi kambing hitam. Padahal menurut saya itu lebih ke persoalan bagaimana manajemen waktu. Dan ada satu hal lagi yang sangat berpengaruh yaitu MOTIVASI INTERNAL atau AUTO MOTIVATION. Kalau ga ada motivasi dari dalam, dijamin deh ga bakal kelar-kelar. Yang namanya ngerjain skripsi itu ga boleh berhenti di tengah jalan alias harus stay tune. Kita harus bisa mengatur ritme semangat dan mengendalikan mood disamping persiapan fisik dan materi. Sekali berhenti akan susah banget ngecharge-nya lagi. Jadi, menurut saya, yang pertama harus ditumbuhkan justru adalah motivasi itu sendiri. Jika motivasi sudah tertanam kuat ga bakal deh ada yang namanya males penelitian, malu maju dosen, takut konsultasi, dll. Sebenernya sih sebagai wujud ukhuwah, kami sesama aktivis sering saling mengingatkan. Entah secara langsung ataupun lewat sindiran. Entah secara personal ataupun “lebih kejam” yaitu di sindir dalam forum. Kasian banget kan? Tapi ya itu tadi, kalau motivasi internalnya ga ada, ya mau dibilangin kayak apa juga ga bakalan mempan. Kalo Stephen Covey bilang: “motivasi adalah api dari dalam. Jika orang lain mencoba menyalakannya untuk Anda, kemungkinan apinya hanya menyala sebentar.” Nah lho! Kalau berkaca pada diri sendiri, justru menumbuhkan motivasi internal itu yang susah. Apalagi kalau hidup lagi ruwet-ruwetnya. Ugh, pengennya tuh ngendon di kostan, ga perlu ke lapangan tapi bisa lulus. Gimana bisa, coba? Waktu terus berjalan, eh ga nyadar udah hampir 1 tahun ga kelar-kelar.. Parah banget kan? Ortu udah ngedesek aja nanya kapan lulus. Ga tega menggantungkan harapan mereka, akhirnya dipaksain juga. Ngebut ke lapangan nyari data, nyusun draft ‘n maju. Sekalinya maju, eh, langsung di acc, pendadaran ‘n wisuda. Itu kalau diseriusin dari awal paling menghabiskan waktu hanya 6 bulan. Nyesel abis. Tau gitu kenapa ga dari dulu. Emang yang namanya penyesalan selalu di belakang L Untungnya kekecewaan ortu bisa diobati dengan IPK yang lumayan, bisa maju ke depan pas yudisium, ortu duduk di deretan kursi special ‘n salaman ma Rektor, juga dapet 3 plakat. So, sekarang sih bagi yang belum ngerjain skripsi ga perlu nyari kambing hitam and banyak apologi. Tinggal MULAI dari SEKARANG. Lulus sih emang pasti, but kapannya itu yang mesti dipikirin. Jangan sampe menggantungkan harapan orang tua terlalu lama untuk melihat anaknya pake toga. Apalagi kalau sampe DO. Ugh jangan banget deh. Cukup ortu saya aja deh yang pupus harapan ngeliat kakak saya pake toga. Ini tentunya terlepas dari yang namanya suratan takdir. Tapi, bukankah takdir itu berada setelah usaha? And, satu hal lagi, jangan sampai molornya studi kita malah membuat citra dakwah menjadi tercoreng. Agak hiperbol sih. Tapi, ada benernya juga. Kalau sampai terbentuk kembali image bahwa aktivis dakwah identik dengan IPK pas-pasan, lulusnya lama, apalagi DO, wah…nanti orang ammah memandang sebelah mata kepada kita dan tak mau bergabung dengan barisan dakwah. Belum lagi citra di mata dosen dan birokrat. Mudah-mudahan ga seekstrim itu, ya, Insya Alloh. So, sist ‘n bro…jangan putus asa ya…You can do it, pasti! Kalau lagi males, hopeless atau apapun penyakit internal yang hinggap, mungkin kata-kata bijak dari Miranda Risang Ayu ini bisa jadi penyemangat: “Cakrawala selalu mengingatkan kita bahwa di atas bumi selalu ada ruang tak terbatas. Di atas prasangka-prasangka subjektif yang cengeng tentang ketidakmampuan seorang manusia, ada ketidakterbatasan yang menjanjikan berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan untuk menjadi lebih baik dan lebih mampu. Syaratnya hanya berusaha berusaha bersandar kepadaNya.” Itu saja, anggaplah ini sebagai wujud cinta saya kepada kalian. Wallahu a’lam. 11 Maret 2006 Spesial buat ikhwah fillah angkatan 2000 UNSOED yang sedang dan akan menyusun skripsi: “Ini bagian dari jihad, ikhwah…! “ Juga buat temen baru saya, Ade di Adne Univ. Juanda: “Come on, bro…Just do it!” |
posted by banyu @ 1:03 AM  |
|
|
|
|
| KISI |
Di Banjar, saya diminta terlibat dalam kepanitiaan Workshop KISI 2006. SC-nya bilang bahwa tujuannya adalah agar saya bisa bersosialisasi dengan akhwat Banjar. Maklum, saya kan newcomer di sana. Saya sih seneng-seneng aja. But wait, what is KISI? Hee, ternyata KISI itu singkatan dari Komunikasi Suami Istri. Gubrag! Aduh-aduh, saya mesti terlibat dengan acara khusus pasutri neh. Wah, bisa bener-bener mupeng saya, hehe. Tapi, dipikir-pikir ada untungnya juga sih. Sambil menyelam minum air. Itung-itung persiapan sebelum berlayar., tul ga? Saya jadi mikir, kenapa sih mesti diadain workshop segala “hanya” untuk masalah komunikasi suami istri? Ternyata emang ga semua pasutri punya seni komunikasi yang baik antar mereka. Bisa jadi karena belum terlatih, tidak dilatih atau malah tidak tau sama sekali bagaimana komunikasi yang baik antar suami istri tersebut. Padahal, communication is the key. Kalau ga dilatih, alih-alih “be a romantic couple”, eh malah yang ada perang dingin bahkan piring terbang. Kacau kan? Saya jadi inget di rumah. Suka iseng merhatiin gaya komunikasi ortu. Bukan mau buka-bukaan rahasia keluarga neh. Tapi semoga aja bisa diambil ibrohnya. Ambil contoh kecilnya aja yaitu gimana menjadi pendengar bagi pasangan kita. Pernah suatu kali, ceritanya kami sedang bercengkrama sambil nonton tivi. Mamah tiba-tiba ngajak bapa ngomong. Eh, si bapa malah asik aja mantengin tivi. Terang aja mamah jadi sewot. Ujung-ujungnya saling nyalahin. Gini katanya: “Giliran diajak ngomong cuek aja. Tapi kalo giliran bapa yang cerita pengennya diperhatiin.” Mamah manyun deh ‘n ga jadi cerita. Hihi saya jadi geli ngeliatnya. Akhirnya saya jadi penengah deh.
Nah lho, ternyata emang kalo seni komunikasi ga dilatih bisa runyam urusan. Ngomong-ngomong soal bagaimana saling memahami dalam bahtera rumah tangga, i recommend you sebuah buku bagus karangan DR. Makmun Mubayidh judulnya Saling Memahami Dalam Bahtera Rumah Tangga. Didalamnya dikupas bagaimana cara menyikapi berbagai perbedaan antar suami istri dalam perspektif psikologi Islami. Then, gimana KISI itu? Sabar ya…Insya Alloh kalau ada kesempatan ‘n saya ga jadi pindah dari Banjar, akan coba saya kupas di sini coz workshopnya baru nanti 9 April. So, keep stay tune di http://www.huwaida.blogspot.com/, especially buat yang sedang berbekal menuju pelayaran ^_^ Waallahu a’lam. 9 Maret 2006 Episode rindu, ehm…. |
posted by banyu @ 12:48 AM  |
|
|
|
|
| DREAM |
Sore itu saya mendapat kabar tak menyenangkan bahwa salah satu rekan kerja saya akan mengundurkan diri padahal kami belumlah genap sebulan bekerja. Apa sebab persisnya, biarlah itu menjadi konsumsi para atasan. Tapi, beberapa hari kemudian, saya mendapati dia kembali ke kantor. Oh, berarti dia urung mengundurkan diri. Alhamdulillah, saya tak kehilangan rekan kerja yang sangat bisa diandalkan. Iseng-iseng saya tanya. “To, apa yang membuatmu kembali?”. Saya tak menyangka sama sekali bahwa kalimat inilah yang akan meluncur dari mulut seorang dengan umur 19 tahun. Dewasa sekali. “Lebih baik menjadi bos kecil daripada menjadi kacung besar! Mimpi itu yang membuat saya kembali, Teh”, begitu katanya. Sungguh jawaban yang menghentakkan nurani saya. MIMPI. Ya, sebuah mimpi telah membawa Prapto kembali kepada kami. Lebih lanjut dia bercerita bahwa pekerjaan dia saat ini akan dia jadikan pengalaman dan pelajaran untuk mewujudkan mimpinya kelak: membuka usaha sendiri alias jadi bos! Saya kemudian menengok diri saya sendiri. Saya hampir melakukan hal yang sama dengan Prapto untuk mengundurkan diri. Tapi kemudian niat itu saya urungkan karena jauh sebelum saya menerima pekerjaan ini, saya pernah punya mimpi untuk membuat sekolah sendiri. Nah, dengan pekerjaan ini, saya pikir saya bisa mendapat pelajaran yang sangat berharga bagaimana memenej sebuah lembaga pendidikan. Apalagi di sini saya yang bertanggung jawab terhadap segala macam urusan keakademikan. Mudah-mudahan ini akan menjadi bekal yang sangat berharga. Dengan apa yang saya lakoni sekarang, saya kemudian menjadi tahu bagaimana berhadapan dengan customer, membuat kurikulum dan modul, mencari instruktur, dll. Dengan kata lain, mimpi telah membawa saya kembali. Dengan berkaca pada saya dan Prapto, saya jadi berpikir betapa ajaibnya sebuah mimpi. Ia akan menggerakkan seseorang untuk berusaha, memunculkan kembali gairah seseorang, dan memacunya untuk mewujudkan mimpi tersebut apapun caranya. Mimpi, kata Reza M Syarief dalam bukunya Life Exxcelent, bisa menjadi salah satu sarana kita untuk meraih tujuan-tujuan yang kita inginkan. Bahkan menurut saya, mimpi itu bisa menjadi tujuan itu sendiri atau sesuatu yang hendak kita wujudkan. Bukankah Hasan Al Banna mengatakan bahwa mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok? Nah, persoalannya adalah bagaimana kita mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan? Reza M Syarief membagi tipsnya pada kita bagaimana caranya turning the dream to reality tersebut. Namun ternyata tak semua orang berani bermimpi atau create a dream. Kendalanya ada pada factor-faktor berikut yang disingkat FAMES. F= Fear to failure atau takut gagal. Kadang orang tak berani bermimpi karena takut gagal. Ketakutan kita pada sesuatu membuat kita tak mau mengambil keputusan padahal peluang telah di depan mata. Artinya, ia kalah sebelum berperang. Padahal, kekuatan keyakinan merupakan 50% dari kemenangan itu sendiri. A= Againts to the possibility atau kita melawan terhadap kemungkinan-kemungkinan. Dalam dunia ini semua telah diciptakan dua kemungkinan: gagal-sukses, kaya-miskin, dll. Nah, biasanya yang terframe dalam benak kita terlebih dahulu adalah bayangan kemungkinan terburuk bukan yang terbaik. M=Mediocrity atau sikap hidup pas-pasan atau biasa-biasa saja. Kita tak ingin menjadi orang yang luar biasa, cukup hidup sewajarnya, standar. Padahal untuk mengubah mimpi jadi kenyataan membutuhkan keluarbiasaan. E= lack of Enthusiasm, kekurangan antusiasme. S= Self defence to the change atau bersikap protektif terhadap perubahan. Semua orang pada umumnya tak suka perubahan karena harus beranjak dari zona nyaman. Nah, sekarang bagaimana cara mengubah mimpi menjadi kenyataaan? Kita membutuhkan mesin (engine). Dan mesin itu adalah: - The Wisdom of Abu Bakar. Kalau mimpi kita ingin menjadi nyata, jangan lupakan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan, jangan menjadi orang emosional, reaktif, dll.
- The Fighting of Umar bin Khattab atau semangat juang Umar bin Khattab.
- The Wealth of Utsman bin Affan. Kita membutuhkan kesejahteraan, kemakmuran untuk mewujudkan mimpi menjadi nyata.
- The Smart of Ali bin Abi Thalib atau kecerdasan Ali bin Abi Thalib.
Kita telah mempunyai empat mesin. Tapi itu belum cukup. Kita membutuhkan bahan bakar (fuel). Bahan bakar itu bernama spirit yang bisa kita dapatkan dari Rasulullah SAW dengan meneladani sifat-sifat beliau. Ikhwahfillah, semoga pembicaraan kita tentang mimpi ini bermanfaat. Jangan takut bermimpi toh ga bakal ada yang ngelarang bermimpi. Namun yang paling penting adalah bagaimana mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan. Eleanor Rosevelt mengatakan bahwa masa depan menjadi milik mereka yang percaya akan keindahan mimpi-mimpi mereka. Oke, have a nice dream and turning it to reality. Alloh always with us. Just believe that everything is possible if you believe in Alloh. Wallahu a’lam. 9 Maret 2006 Merajut mimpi-mimpi. Suatu hari kelak kan pasti… |
posted by banyu @ 12:40 AM  |
|
|
|
| Saturday, February 18, 2006 |
| Tak Ingin Mencinta, Salahkah? |
Kadang terpikir untuk tak mencintai siapa pun. Ya, siapa pun. Tahu kenapa? Karena aku tak mau menyakiti mereka. Ketika mengetahui bahwa orang yang aku cintai terluka olehku, orang yang telah mengikrarkan cinta padanya, aku serasa menjadi pecundang sedunia. Bagaimana aku bisa mengaku cinta, sementara aku telah menggoreskan perih di hatinya? Bahkan ketika luka itu kemudian tak termaafkan. Ah, betapa bodohnya aku dan betapa malangnya dia telah mengenalku.
Untuk yang pernah terluka karena aku, maafkan aku. Sungguh tak bermaksud....
(6 hari dalam kesendirian, terhempas...) |
posted by banyu @ 10:19 PM  |
|
|
|
| Sunday, January 29, 2006 |
| Nyanyian Perjalanan |
Seumur-umur naik bis, rasanya baru kali itu saya merasakan sensasi yang berbeda. Sebabnya tak lain karena seorang pengamen. Entah siapa dia, namun yang pasti saya sangat berterima kasih padanya, diam-diam. Semoga rupiah yang tak seberapa bisa mewakili rasa yang menyeruak dalam dada saya. Usianya kira-kira 20-an. Cukup keren untuk ukuran pengamen yang biasanya kucel and the kumel. Ketika jari-jarinya mulai memainkan intro, saya menyangka dia akan menyanyikan lagu-lagu khas anak nongkrong MTV seperti “Jujur”-nya Radja atau “Ada Apa Denganmu”-nya Peter Pan. Dugaan saya meleset. Dia ternyata melagukan tembang sunda dengan cengkoknya yang khas. Meski banyak nada yang meleset (kayak Tri Utami banget, ya?!), cukup okelah. Rasanya nyaman sekali di hati. Mungkin karena saya sudah lama sekali tak mendengar lagu sunda. Ketika kemudian saya coba menghayati bait-baitnya, tak terasa mata saya kaca. Bagaimana tidak, simaklah bait di bawah ini: “………………………….. Anaking, kajeun urang paanggang, tapi hate mah paanjang-anjang. Kajeun urang papisah, mung ka Gusti urang sumerah” …………………………” Artinya kurang lebih begini: “Anakku, walaupun kita terpisah, tapi hati kita tetap saling terpaut. Walaupun kita berpisah, hanya kepada Alloh kita berserah” Lagu ini menceritakan tentang seorang ibu yang berpisah dengan anaknya karena harus menjadi TKW. Ah, saya jadi teringat ibu di rumah. Rindu saya semakin membuncah seiring air mata yang sudah tak sabar ingin keluar. Keharuan saya bertambah-tambah ketika pengamen muda itu menyanyikan lagu kedua. Masih lagu sunda. Kali ini tentang pesan seorang ayah kepada anaknya. Simak bait-bait yang saya ingat di bawah ini: “…………………… “Ujang…hirup teu salilana datar, aya turunan aya tanjakan. Neng…sing nyobat ka ahli tobat, dekeut jeung ulama,.. …………………….” Artinya kurang lebih begini: “Ujang (sebutan bagi anak laki-laki_pen), hidup tak selamanya datar, kadang menurun kadang menanjak. Neng (sebutan untuk anak perempuan_pen), bersahabatlah dengan ahli taubat, dekat dengan ulama) Ah, saya jadi ingat ayah saya. Beliau selalu mengajarkan dan mencontohkan perlunya kerja keras dan memegang teguh ajaran agama.
Perjalanan Ciamis-Kuningan menjadi sangat bermakna. Pengamen itu datang tepat ketika kondisi dan suasana hati saya memang sedang mellow abis. Waktu itu saya pulang untuk pamitan karena saya mulai akan bekerja di kota tetangga. Ah, andaikan semua pengamen bisa menghadirkan nuansa yang sama dengan pengamen itu. Maksud saya, mengamen tidak hanya mengejar rupiah, namun juga menjadi “syiar” dalam pengertian yang sangat universal. Bukan hanya genjrang-genjreng tak karuan bahkan kadang sedikit “memalak”. Profesi apa pun, saya pikir bisa menjadi ladang kebaikan yang dengannya seseorang bisa memperoleh dua kebaikan yaitu pahala dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.
28 Januari 2006 Mengenang Perjalanan Ciamis-Kuningan 22 January 2006 Thanks a lot buat Kang Pengamen, semoga Alloh melimpahkan rizkiNya padamu. |
posted by banyu @ 12:14 AM  |
|
|
|
|
| Sok Idealis |
Suatu pagi, seorang teman menelepon saya dan menanyakan aktivitas saya sekarang. Saya jawab bahwa saya terlibat dalam perintisan sebuah lembaga pendidikan, dengan gaji seadanya dan ekstra kerja keras. Tanggapannya sungguh di luar dugaan saya. “Kamu itu sok idealis”, begitu katanya. Saya terhenyak, betulkah saya sok idealis? Bagi saya dan teman tersebut, masa-masa sekarang ini memang merupakan masa sulit. Sebagai fresh graduate, job hunting menjadi menu wajib bagi keseahrian kami. Alhamdulillah, setelah nyaris tanpa aktivitas selama 4 bulan, saya mendapat tawaran dari seorang teman untuk ikut merintis sebuah lembaga pendidikan di kota kecil di selatan Jawa Barat. Tawaran itu kemudian saya terima. Awalnya memang agak pragmatis. “Yah, daripada di rumah bengong”, begitu pikir saya. Tapi ternyata setelah saya mencoba memaknai apa yang akan saya kerjakan, Subhanalloh, saya punya kesadaran baru bahwa saya sedang terlibat dalam sebuah proyek peradaban. Jujur, saya tak terlalu merisaukan berapa banyak saya akan dibayar, pun dengan orang tua. Bukan karena saya sudah banyak uang, tapi lebih karena saya akan mereguk sebanyak mungkin pengalaman yang mungkin itu tidak bisa saya dapatkan dari tempat lain. Apakah itu yang teman saya maksudkan dengan “sok idealis”? ..... Mencoba bertahan dengan semangat “pengabdian” di tengah gempuran realita yang serba materi, idealiskah itu? Atau saya memang sok idealis, karena dengan demikian saya menjadi tidak sepenuhnya mandiri karena masih disubsidi orang tua meski sedikit. Ah, biarlah itu disebut apa. Yang penting, saat ini saya mencoba untuk melakukan pekerjaan saya dengan cinta. Dan berkah Alloh, belum sebulan saya berada di kota kecil itu, beberapa amanah dakwah sudah ditawarkan pada saya. Semoga saya bisa merawat kepercayaan mereka, orang-orang yang telah percaya pada potensi saya. Saya jadi ingat pesan Pa Ari, Direktur El Rahma Purwokerto, bahwa meskipun di kota kecil saya harus menjadi ‘besar’ dengan melahirkan karya-karya besar! Apa yang saya kerjakan memang belum menghasilkan apa-apa, setidaknya sampai detik ini. Namun demikian, saya percaya bahwa saya akan menghasilkan sesuatu. Diawali dengan sebuah idealisme tadi. Adapun “suara-suara negatif” semacam perkataan teman saya itu, biarlah menjadi pemacu atau abaikan sama sekali. Mengabaikan suara negatif adalah ciri perempuan sukses, begitu bunyi artikel yang pernah saya baca. Idealisme bagaimana pun akan senantiasa diuji. Semoga saya bisa menggenggamnya erat-erat. Alloh, mudahkan urusan kami…
28 January 2006 Saat cinta itu perlahan tumbuh
|
posted by banyu @ 12:01 AM  |
|
|
|
| Thursday, January 19, 2006 |
| Reuni... |
Maha Suci Alloh penggenggam semua jiwa, yang telah mengikatkan hati-hati manusia yang bersaudara meski jarak telah terbentang dan kilasan waktu telah terlewati. Reuni, bagi sebagian orang adalah kerinduan. Bertemu kembali dengan teman-teman seperjuangan atau mungkin dengan mantan pujaan hati (ehm), saling bertukar cerita, dll, adalah sesuatu yang sangat dinantikan. Sebagian orang yang phobia menganggap reuni hanya ajang “pamer kesuksesan” sehingga menjadi sesuatu yang dihindari, apalagi kalau merasa diri “belum menjadi apa-apa.” Ah, mungkin masih banyak lagi persepsi orang-orang tentang sebuah ajang bernama reuni. Bagaimana dengan saya? Sejak reuni menjadi tradisi angkatan kami, SMUNDA Kuningan 2000, saya selalu menyempatkan hadir. Bagi saya, reuni adalah kesempatan bertemu kembali dengan sahabat, teman satu corps di Bantara dan Paskibra, guru-guru tercinta, dll, meski tiap reuni, belum ada kemajuan berarti. Seperti 2 tahun yang lalu, saat teman-teman sudah menyelesaikan kuliahnya dan bekerja, sementara saya skripsi pun belum dimulai, saya tetap pede datang. Kalau ditanya: “Udah lulus belum?” Saya jawab dengan pedenya: “Belum!” Malu? Ga tuh, biasa aja! Entah saya yang ndableg atau kepedean, tak taulah. Maka datanglah saya dengan gamis dan kerudung lebar yang cukup membuat sahabat-sahabat dekat saya iri (ini menurut pengakuan mereka, lho..) Atau baru-baru ini, 2 hari yang lalu, sahabat saya ingin bertemu dengan saya dan 2 teman yang lain. Reuni kecil-kecilan, ceritanya. Dan masih dengan pedenya saya pun berangkat. Padahal saya tahu, 2 teman saya sudah bekerja, 1 lagi baru selesai mengambil Program Profesi Farmasi. Sementara saya? Saya masih berstatus pengangguran (ihiks). Seperti biasa mengalirlah cerita dari mulut mungil mereka seputar pekerjaan dan kisah cinta mereka. Sementara saya harus cukup puas dengan menjadi pendengar dan komentator setia. Rn, sahabat dekat saya dalam waktu dekat ini menjadi utusan UGM untuk membuat Sistem Akuntansi di Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Aceh. (Ihiks, padahal saya yang pengen banget ke Aceh.) Tut, teman saya yang masih tetep cerewet, sudah bekerja di stasiun televisi local di Jakarta. Yang paling seru tentunya cerita si Tut. Dia pernah jadi reporter infotainment, produser sebuah reality show, dll. Dia memang lulusan D3 Broadcasting. Bekerja di bisnis hiburan ternyata begitu “keras”. Lingkungan kerja yang tak kondusif sempat membuatnya “terlempar” ke dalam kehidupan yang “tak sehat”, meski Alhamdulillah sekarang kehidupannya lebih tertata. Rtn, sebentar lagi wisuda untuk program profesinya. Dan Wd, si abdi negara, yang ujug-ujug datang masih dengan seragam kantornya. Begitulah…Dan saya, Banyu Yanuarina T, S. Sos, masih berstatus pengacara, pengangguran (ga) banyak acara. Tapi…dalam diam terselip rasa syukur yang berlimpah-limpah. Kilasan waktu telah mengubah jalan hidup kami. Masing-masing menjalani takdirnya sendiri. Tak ada yang saya sesali dari pertemuan itu selain kenyataan bahwa, mereka, sahabat-sahabat saya, “melepas” hidayah yang telah Alloh berikan, karena setahu saya, mereka termasuk akhwat-akhwat hanif. Kini, diantara mereka berempat hanya saya yang berkerudung lebar dan berkaos kaki juga masih “ngaji”. Meski, tentu saja itu tidak menjadi ukuran keimanan seseorang dan juga saya tidak mengklaim bahwa saya lebih baik dari mereka. Namun , setidaknya saya, sampai hari ini, sudah berhijab sesuai dengan titah Ilahi dan masih berada di lingkaran cahaya. Memang dari segi finansial, saya belumlah sesukses mereka. Tapi, saya mensyukuri capaian yang telah saya raih. Hidayah, meski saya tertatih untuk meraih dan mempertahankannya, itu lebih berarti dari apa pun. Terimakasih, Alloh…Semoga hidayah itu juga menjadi milik mereka. Hari ini, saya juga bertemu dengan teman lama. Imas, akhwat imut yang melepas status lajangnya 4 bulan yang lalu. Kali ini, saya tak hanya menjadi pendengar setia karena kami mempunyai topik yang sama: tarbiyah, dakwah dan lowongan pekerjaan. Alhamdulillah, sampai detik ini, dia masih berjilbab lebar, berkaos kaki dan ngaji tentunya.Memang, menjelang kelulusan SMU, kami sempat mempunyai azzam yang sama: jadi Akhwat!! Berbicara seputar dakwah dan tarbiyah pastilah nyambung karena kebetulan juga dia pernah menjadi pentolan dakwah di kampusnya. Kami juga shalat dzuhur berjamaah di masjid alun-alun.. Menyenangkan sekali…Ah, semoga saja kami mampu menggenggam hidayah ini selamanya, tak seperti teman-teman kami yang berguguran satu-per satu. Naudzubillah… Begitulah…dari setiap episode reuni, selalu terselip hikmah yang jika itu dihayati akan mendatangkan rasa syukur yang berlimpah-limpah. Saya bisa mengambil pelajaran dari kehidupan teman-teman saya. Maka, saya tak perlu “alergi” dengan reuni. Meski demikian, saya berazzam, pada reuni mendatang, harus ada perubahan yang signifikan dalam hidup saya. Entah itu sudah bekerja, berkeluarga, atau apapun itu yang membuat eksistensi saya di muka bumi ini diakui. Dan yang tak ingin saya ubah adalah bahwa saya selalu berada dalam lingkaran cahaya, bersama kafilah dakwah, sehingga ketika reuni berikutnya dan seterusnya, saya masih dengan berkerudung lebar, berkaos kaki, dan tentu saja masih ngaji. Sehingga dengan demikian, saya tidak hanya memahat “ADA” di bumi, tapi juga di langit tentunya. Betul begitu, Mba HTR? Dalam jarak yang kian purna Dalam waktu yang kian bisu Tak pantas cinta itu beku Kita masih bisa bertukar kabar Lewat rumput atau debu Lewat syair atau lagu. 11 January 2006 Di 24 tahun usiaku, dan aku belum melakukan apa-apa. |
posted by banyu @ 9:55 PM  |
|
|
|
|
| Berjuta Doa di Januari |
Hari ini milad saya ke-24. Sedih, karena saya “merayakannya” dalam kesendirian, tanpa pelukan dan ciuman hangat akhwatifillah seperti tahun sebelumnya. Meski demikian, sejak pukul 03.53 WIB saya menerima sms dan telpon ucapan selamat. Meski yang mengucapkan tidak sebanyak tahun kemarin, saya bersyukur ternyata masih ada yang ingat hari kelahiran saya dan mendoakan saya. Dengan begitu, saya merasa sangat dicintai, sebagai sahabat.
Beginilah cara mereka mengungkapkan cintanya pada saya: Ratih, 03.53 “Met Milad yang ke-24 tahun, moga enteng jodoh, rezeki dan jadi lebih baek. ;-)” Dee Mumtazah, 04.48 “Met Milad ke-24. Semoga selalu dalam lindunganNya, semoga sisa kontrak hidupmu lebih bermanfaat dengan kebajikan, tergapai segala asa…Bertambah bilangan usia semoga menjadikanmu lebih dewasa dan bijak dalam berpikir dan bertindak. ;-)” Wira 05.46 “Ke Surabaya jual ban. Met Hari Raya Idul Qurban. Hujan-hujan ke Jakarte, Hari Raya Qurban enaknya makan sate. Ketupat kecebur santen, sedoyo lepat nyuwun ngapunten. Met Ultah Ina.” Mas Wachid 06.23 “Pagi berselimut terang sang surya menyibak gelapnya malam. Pagi yang indah membawa kebahagiaan. Pagi ini tlah bertambah usiamu. Semoga di hari maulidmu, semakin mengokohkanmu.” Rini Pa’o 06.26 “Met hari lahir nya, neng…Mudah-mudahan taun ieu cita-cita n harapan ina tercapai. Amin” Bunga Ch 07.07 “Happy milad ke-24. Semoga dengan berkurangnya jatah usia anti tambah dekat ma Alloh, tambah baik ibadahnya, semoga disegerakan mendapat pekerjaan yang anti inginkan juga disegerakan ijab qabul J” Mas Wachid (lagi…) 11.02 “Met hari Lahir, semoga sukses selalu. Senantiasa dalam lindungan Alloh SWT. Amiiin” Zai Marpaung 17.43 “It’s could be a long way, to see the world, to hear the human song, to feel the luv…Just enjoy your life n say thanks to God that u are still alive… Happy B’Day…” Neng Eueun 21.55 "Asww. Teh, met milad ya…Semoga harapan dan cita-cita teteh terkabul tahun ini. Cepet kerja…S2…Trus? J Hidup Kuningan!” Juga ada telpon sekitar jam 5-an dari seorang teman, diterima dengan terkantuk-kantuk. Sekitar setengah 7, Nely nelpon dari Purwokerto, Ata dari Tangerang. Jam 5 sore Neng Uchie nelpon dari Jakarta. Semua mendoakan saya. 12-01-06 Imas 09.32 “Wilujeng milad 23th (24…imas…_pen) Moga rahmat Alloh selalu menyertai. Hapunteun pisan kamari hilap! Hilap pisan. Wilujeng ah! Mugi gampil rizki, enteng jodo J Dikabul sadaya cita-cita.” Neng Honey, 12.31 “Ass, tetehku sayang met milad. Afwan telat, ga ada pulsa. Mh…cita dan cinta milik anda.” Untuk mereka semua, jazakumullah khairan katsir. Setiap doa dari kalian, adalah juga pemacu untuk saya menjadi lebih baik. Doa kalian, pasti “berbalik” lagi kepada kalian. Terimakasih Alloh atas nikmat usia yang Engkau berikan. Semoga saya bisa mengisi tiap jenaknya dengan sesuatu yang berarti…Ampuni dosa-dosa saya sejak saya mulai Engkau hukumi hingga detik ini. Izinkan saya melakukan yang terbaik untuk diri saya, orang tua saya, sahabat-sahabat saya dan pastinya untuk Engkau, Alloh. Demi masa… 11 dan 12 January 2006 |
posted by banyu @ 9:52 PM  |
|
|
|
|
|
|
|